April 29, 2013

Surga dan Neraka

Waktu gue masih duduk di bangku SD, entah kelas berapa, gue nggak ingat, guru agama gue pernah nanya :
“ apa itu surga dan apa itu neraka? ”

Kemudian salah satu teman gue menjawab,” surga adalah tempat yang penuh dengan hal-hal yang membuat kita senang. Dan neraka adalah tempat yang penuh dengan hal-hal yang membuat kita menderita ”
Dan guru gue membenarkannya.

Karena saat itu gue masih kecil, polos, lugu, dan tanpa dosa, jadi yang ada dalam benak gue saat itu adalah di surga itu pasti banyak ice cream, permen, coklat, dan mainan yang bisa gue dapatin secara gratis alias gue nggak perlu pake yang namanya duit. Gue juga nggak perlu menunggu kemurahan hati ortu atau kakak gue untuk bersedekah demi mendapatkan semua itu. Dan yang paling penting di surga nggak ada yang namanya PR alias hukuman di rumah.
Sebaliknya, di neraka pasti banyak ice cream, permen, coklat dan mainan, tapi harganya jauh lebih mahal daripada di bumi. Bisa-bisa ortu gue harus gadai rumah biar bisa beliin gue ice cream. Dan pastinya di neraka guru-guru lebih sadis. PR pasti lebih banyak, prakarya dan ulangan pasti lebih sering.

Makanya sejak saat itu gue punya keinginan baru. Kalo sebelumnya gue punya keinginan tiap hari dapatin duit seribu perak, dari orang-orang yang gue temui di jalan, tapi saat itu gue punya keinginan untuk surga.
Namun, gue agak sangsi sama keinginan gue, setelah guru agama gue bilang kalo orang yang masuk surga adalah orang baik selama dia hidup.

Oke, kalo soal jadi orang baik gue nggak ragu lagi sama diri gue. Gue sering bantuin abang, adik dan teman gue. Gue biasa bantuin abang gue kalo lagi nyolong buah di kebun orang. Gue biasa bantuin adik gue kalo dia lagi kewalahan makan coklatnya (walau biasanya gue bantuin secara diam-diam, alias dia sendiri kadang nggak tau kenapa coklatnya tiba-tiba udah habis aja). Selain itu gue juga sering bantuin teman gue yang kesusahan, apalagi saat ulangan.
Dari kebiasaan nolongin orang itulah gue yakin banget gue bisa masuk surga.

Baru aja gue yakinin diri gue bahwa gue bisa masuk surga, eh . . . guru gue kembali memberikan statement yang  membuat gue agak merinding.
Gue baru boleh masuk surga kalo gue dah mati. Ya . . . MATI.
Ini membuat gue agak ngeri sebenarnya. Tapi tak apalah kalo di surga jauh lebih baik daripada di bumi kenapa gue harus takut.

Mulai saat itu gue mulai berusaha jadi anak baik. Tiap kali Nyokap gue nyuruh gue apa aja, gue turutin tanpa ngeluh. Bahkan kadang gue doa biar gue cepat mati, dan gue  bisa masuk surga. Jadi gue bisa cepat-cepat dapat ice cream gratis.

Beranjak ke bangku SMP, guru agama gue (tentunya yang berbeda) kembali bertanya tentang surga dan neraka. Berbekal pengetahuan seadanya yang gue dapat saat SD, dan diiring kepedean tingkat dewa, gue menjawab: ” surga adalah tempat yang penuh dengan hal-hal yang membuat kita senang. Dan neraka adalah tempat yang penuh dengan hal-hal yang membuat kita menderita ”
Kemudian guru gue bertaya lagi : “ kalo begitu di manakah letak surga dan neraka? ”

Krik . . krik . . krik . . .

Gue bingung mo jawab apa. Saat itu gue baru sadar, kalo gue nggak tau alamat surga yang menjadi tempat impian gue. Mana waktu itu Ayu Tingting belum ada lagi. Kalo Ayu udah ada kan gue bisa minta tolong dia nemenin gue nyari alamat surga.

Saat itu gue berusaha mengingat, mungkin aja guru gue pernah ngasih alamat surga waktu SD. Dan dengan PD yang masih berkobar-kobar, gue menjawab : ” di atas ” sambil menunjuk plafon kelas.
Terus guru gue nanya, “ darimana kamu tau surga itu di atas? ”
Dengan kepolosan yang masih tersisa gue jawab: “ soalnya tiap nomongin surga guru saya selalu nunjuk ke atas ”
Dan spontan seisi kelas menertawakan kepolosan gue.

Guru gue kemudian menjelaskan, surga itu bukan nama tempat, tapi surga itu adalah suasana yang membuat seseorang menjadi menjadi bahagia. Dan neraka adalah suasana yang sebaliknya.
Guru gue juga bilang kita nggak harus mati biar bisa ngerasain surga itu kayak gimana. Di bumi pun kita bisa menciptakan surga.
Saat itu, gue agak tehibur. Karena, yang pertama itu berarti gue nggak harus mati agar gue bisa ke surga, dan yang kedua gue udah capek jadi anak baik. Gue udah capek liatin coklat adik gue yang berjubel dan nggak bisa gue makan.
Sumpah . . . menahan diri untuk nggak makan coklat punya adik gue merupakan perjuangan terberat dalam hidup gue.
Guru gue juga pernah bilang, surga yang baik adalah  surga yang membuat kita dan orang di sekitar kita merasakan kebahagiaan.
Gue setuju sama pendapat ini. Secara kita adalah makhluk sosial. Kita nggak mungkin bisa lepas dari yang namanya relasi dengan orang lain. Jadi jangan sampai menciptakan surga bagi diri sendiri dan neraka bagi orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita sering merasakan surga dan neraka. Contohnya, gue bakalan ngerasain neraka saat lidah gue ngerasain makanan yang pedas. Dan gue bakalan ngerasain surga saat lidah gue ngerasain susu coklat.
Ada teman gue yang ngerasain surga saat dosen favoritnya manggil namanya, dan ngerasain neraka saat dosen tersebut ngasih tugas observasi.
Ada yang nemuin surga saat duduk dekat orang yang pake parfum yang nggak nyengat, dan bakal nemuin neraka saat duduk dekat orang yang keringetan dan lupa pake deodorant.
Ada juga teman gue yang bakal ngerasain surga saat lihat wajah gebetannya, dan ngerasain neraka saat tau kalo ternyata gebetannya udah punya pacar.
Nggak sedikit yang ngerasain surga saat berhasil membeli baju impian di distro ternama, dan ngerasain neraka saat ketemu orang yang juga memakai baju yang sama.

Nah . . . bagaimana dengan kalian? Apa surga dan neraka bagi kalian?

Please, share it here . . .

Pesan gue, saat menciptakan surga untuk diri kalian, jangan lupa pikirkan orang di sekitar kalian, sehingga mereka nggak ngerasain neraka dari surga yang kalian ciptakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar